Oleh: Imalatul Hidayah
Mahasiswa Magister Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Di era transformasi digital menuju masyarakat 5.0, institusi tradisional seperti pesantren menghadapi peluang sekaligus tantangan. Pesantren telah menjadi salah satu pilar penting dalam pembentukan karakter dan moral bangsa Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pembentukan budaya, etika, dan nilai-nilai sosial. Dari perspektif sains dan Islam, budaya pesantren memiliki nilai keunggulan yang relevan, namun ketika dipotret oleh media tanpa pemahaman yang tepat, dapat terjadi salah tafsir yang berdampak pada citra dan harmoni sosial. Namun di sisi lain, munculnya berbagai tayangan televisi yang menyoroti pesantren justru menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Salah satu contohnya adalah program di Trans7 yang menuai kritik karena dianggap gagal memahami esensi budaya pesantren. Budaya pesantren yang kaya adab, spiritualitas, dan tradisi terpapar oleh bingkai media yang kurang sensitif. Tayangan tersebut menampilkan kehidupan santri dan hubungan guru–murid (kiai–santri) dengan bingkai yang dianggap merendahkan dan tidak sesuai konteks.
Budaya Pesantren dalam Perspektif Sains dan Islam
Dalam tradisi pesantren, terdapat tiga pilar utama yaitu: ilmu (pengetahuan), adab (etika/penghormatan), dan pengabdian (khidmah). Islam secara historis menekankan bahwa hanya dengan ilmu tidak cukup, harus dibarengi dengan adab dan diterapkan dalam masyarakat. Dari sisi sains sosial, institusi pesantren dapat dipandang sebagai sistem sosial terbuka yang memproduksi manusia berkarakter, komunitas inklusif, dan jaringan sosial yang kuat. Dalam riset “Budaya Pesantren di Pulau Seribu Masjid, Lombok”, disebutkan bahwa pesantren telah “memberikan warna dan corak khas dalam masyarakat Indonesia, khususnya pedesaan”. Dari aspek pendidikan, pesantren membentuk lingkungan belajar yang holistik: mental-spiritual, sosial, kognitif, budaya.
Di sisi masyarakat 5.0 (masyarakat yang memanfaatkan teknologi cerdas sambil tetap menjaga nilai humanitas), pesantren justru bisa menjadi jembatan penting antara tradisi dan inovasi digital. Beberapa poin penting: Pesantren mempunyai potensi integrasi antara teknologi dan tradisi, misalnya modul e-learning yang dikombinasikan dengan metodologi sanad dan pengabdian.Nilai adab, empati, kebersamaan yang ditanam di pesantren menjadi modal sosial yang sangat dibutuhkan ketika teknologi makin mendominasi kehidupan manusia agar manusia tetap manusiawi. Dari sudut sains data, lingkungan pesantren menyediakan jaringan sosial yang ‘dense’, sehingga analisis sosial-komputasi terhadap komunitas santri bisa menghasilkan wawasan baru tentang kepemimpinan, inovasi komunitas, dan resilience sosial. Dengan demikian, budaya pesantren bukanlah “kuno” atau “tertinggal”, melainkan aset strategis dalam masyarakat 5.0: teknologi boleh maju, tetapi manusia dan nilai budaya harus tetap menjadi pusat.
Kesalahan Perspektif Trans7 dalam Memahami Budaya Pesantren
Sayangnya, pada bulan Oktober 2025, Trans7 menghadapi gelombang protes (#BoikotTrans7) setelah menayangkan program yang dianggap menampilkan pesantren dengan cara yang “mengejutkan” atau “ekstrem”. Beberapa poin kesalahan yang muncul antara lain:
1. Framing sensasional tanpa konteks
Program disebut menyoroti ritual tradisi pesantren seperti santri mendekati kiai atau tindakan hormat secara fisik dengan narasi yang memunculkan kesan “feodalisme” atau “budaya budak”. Padahal, menurut para ulama pesantren, adat-kata-tindak tersebut adalah ekspresi adab dan penghormatan, bukan penindasan. Media mengemasnya sebagai tontonan, bukan sebagai bagian dari sistem nilai yang memerlukan pemahaman.
2. Mengabaikan keunikan kultur pesantren
Budaya pesantren memiliki kerangka nilai yang berbeda dengan masyarakat umum. Misalnya, tata krama santri terhadap kiai, cara bersikap, hingga tradisi keseharian santri. Kiai Marsudi menegaskan bahwa “Kalau anda lulusan Amerika… eye to eye … tapi ini budaya santri. Ini berbeda.” Media yang tidak memahami kerangka ini bisa melakukan mis-representasi budaya.
3. Purposive-constructing narasi untuk rating
Beberapa analis menilai bahwa program tersebut lebih mengejar unsur dramatisasi dan kontroversi untuk menarik perhatian penonton, dibandingkan untuk memberi pemahaman mendalam. “Media bukan hanya menayangkan, tapi menyampaikan makna.”
4. Dampak sosial dan kebudayaan yang merugikan
Tayangan yang tak peka budaya telah memicu luka kultural di komunitas pesantren; identitas dan martabat pesantren merasa tersinggung, dan publik bisa mendapat kesan yang salah terhadap lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam pembentukan karakter bangsa.
Pesantren Sebagai Pusat Integrasi Ilmu, Teknologi, dan Moralitas
Dalam paradigma Islam, ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai etika dan moralitas. Qur’an surat Al-‘Alaq dan Al-Mujadilah ayat 11 menegaskan bahwa orang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah. Namun, ilmu harus disertai adab agar membawa keberkahan. Di sinilah pesantren memainkan peran strategis, santri dididik bukan hanya memahami logika dan teknologi, tetapi juga hikmah kearifan dalam menggunakan pengetahuan untuk kebaikan. Ketika Masyarakat 5.0 mengedepankan teknologi untuk efisiensi, pesantren menambahkan nilai kasih sayang, kesederhanaan, dan pengabdian. Model integrasi ini penting agar kemajuan teknologi tidak menimbulkan dehumanisasi. Dalam hal ini, pesantren dapat berperan sebagai laboratorium etika digital, tempat membangun keseimbangan antara nalar, iman, dan akhlak.
Budaya masyarakat pesantren dan masyarakat 5.0 sejatinya tidak bertentangan. Pesantren dengan nilai religius dan moralnya justru menjadi fondasi spiritual masyarakat digital. Namun, kesalahan media seperti Trans7 menunjukkan masih kurangnya pemahaman terhadap konteks budaya Islam tradisional. Dalam perspektif sains dan Islam, integrasi antara tradisi dan teknologi harus menempatkan manusia sebagai pusatnya bukan algoritma atau rating. Pesantren telah lebih dulu mengajarkan konsep itu melalui keseimbangan antara ilmu, adab, dan amal. Dengan demikian, masa depan Indonesia dalam era Masyarakat 5.0 dapat tumbuh secara beradab, berilmu, dan beriman.